
Ada yang pelan-pelan mengendap di antara berkas dan tumpukan hari,
seperti daun tua yang belajar menyerahkan dirinya pada angin,
menunggumu di sepanjang lorong yang riuh oleh agenda,
tempat jam dinding berdetak tanpa pernah menyebut nama.
Kau menjelma jade vine yang tergantung di dahan paling sunyi,
hijau kebiruan, dingin, dan tak tersentuh di ketinggian,
melilit waktu dalam jarak yang tak pernah menyusut,
sedang mataku hanya tanah yang membiarkan dirinya dihinggapi bayangan.
Belasan tahun aku menyimpan gema langkah yang sama,
menyelipkannya di sela-sela pembicaraan yang kaku,
membayangkan suatu sore jeda akan memutus formalitas,
dan membiarkan sunyi berbicara dengan bahasanya sendiri.
Aku terbiasa menjadi jarak di sudut ruang yang sama,
menatap lantai yang kerap dilalui keanggunanmu,
sebab setiap kali ada bisikan untuk mendekat,
kelopakmu senantiasa terangkat oleh angin yang tak kukenal.
Kita berteduh di bawah naungan atap yang serupa,
menghabiskan musim demi musim dalam rutinitas yang membatu,
namun ada benua tak kasat mata yang terbentang di tengahnya,
memisahkan dua napas yang tak pernah ditakdirkan bersatu.
Warna jade vine-mu menyalakan sudut-sudut yang remang,
memberi rupa pada waktu yang terus berjalan dingin,
tapi kilau itu adalah milik langit lain yang jauh,
bukan untuk jemari yang hanya pandai mencatat sepi.
Aku memelihara keheningan ini dengan cara yang paling tenang,
seperti embun yang menguap sebelum matahari sempat menyapa,
tanpa pernah menuntut dahan tempatnya bersandar
memahami dingin yang mengendap sepanjang malam.
Lalu saat itu datang tanpa gaduh dan tanpa tanda,
sebuah batas ditegaskan dengan kata-kata yang teramat sopan,
runtuhlah seluruh angan yang tersimpan di balik pintu,
begitu halus hingga luka pun tak sempat menyebut namanya.
Tak ada pecahan kaca atau raung yang membelah malam,
hanya keheningan yang mendadak meluas tak bertepi,
seluruh tahun yang tertimbun di ruangan ini meleleh,
menjadi abu yang beterbangan tanpa arah dan tujuan.
Abu itu mengendap di atas meja-meja kayu dan catatan lama,
menimbunjejak-jejak keberadaan yang pernah ada,
tempat belasan tahun harapan menjalar tanpa suara,
kini hanya menjadi hamparan putih yang lelap.
Kau tetap menggantung anggun sebagai jade vine,
tak tersentuh oleh runtuhan waktu dan debu yang gugur,
terlalu indah, terlalu asing, terlalu tinggi untuk dijangkau,
seperti larik puisi yang sengaja dibiarkan tanpa bait penutup.
Kini kubiarkan angin sore membawa sisa-sisa yang tertinggal,
melintasi koridor tempat kita pernah saling melintas tanpa kata,
sebab memahami hadirmu adalah belajar menyerahkan,
bahwa ada yang diciptakan hanya untuk dipandang dari jauh.
Penulis: M. Hikmal Yazid
