
Ada lima musim yang tumbuh di dada,
bukan sebagai hitung,
melainkan bekas yang tak selesai kami pahami.
Kami belajar diam
seperti daun yang menerima jatuhnya sendiri,
seperti akar yang tetap menggenggam tanah
meski hujan tak selalu berpihak.
Di lorong yang panjang itu,
takdir berjalan tanpa suara,
membawa nama-nama yang tak sempat kami tahan.
Yang pergi makin jauh,
yang tinggal makin pandai
menyembunyikan retak di balik wajah.
Kami menyebut sabar
bukan karena hati tak luka,
melainkan karena luka yang paling dalam
hanya bisa diselamatkan oleh doa.
Maka kami merapikan hari
dengan tangan yang gemetar,
dengan harap yang terus dipelihara
meski sering nyaris padam.
Lelah ibu tinggal di sela senyumnya,
di telapak yang kasar oleh kerja,
di malam-malam yang habis untuk memungut masa depan kami.
Ia tidak pernah benar-benar berhenti,
bahkan ketika tubuhnya ingin rebah,
ia tetap berdiri
seperti pintu yang menjaga rumah dari roboh.
Dan aku,
membawa semua yang pernah kehilangan ke dalam langkah,
seperti bara kecil yang tak boleh mati.
Jika kelak aku sampai pada tempat yang tinggi,
biarlah itu bukan sekadar kemenangan,
melainkan cara paling sunyi
untuk membalas yang tak pernah sempat meminta balas.
Penulis: Rifatul Atslah
