Akar yang Menggenggam Hujan

08b390852866ed9c430aa458c7cf536f

Ada lima musim yang tumbuh di dada,

bukan sebagai hitung,

melainkan bekas yang tak selesai kami pahami.

Kami belajar diam

seperti daun yang menerima jatuhnya sendiri,

seperti akar yang tetap menggenggam tanah

meski hujan tak selalu berpihak.

Di lorong yang panjang itu,

takdir berjalan tanpa suara,

membawa nama-nama yang tak sempat kami tahan.

Yang pergi makin jauh,

yang tinggal makin pandai

menyembunyikan retak di balik wajah.

Kami menyebut sabar

bukan karena hati tak luka,

melainkan karena luka yang paling dalam

hanya bisa diselamatkan oleh doa.

Maka kami merapikan hari

dengan tangan yang gemetar,

dengan harap yang terus dipelihara

meski sering nyaris padam.

Lelah ibu tinggal di sela senyumnya,

di telapak yang kasar oleh kerja,

di malam-malam yang habis untuk memungut masa depan kami.

Ia tidak pernah benar-benar berhenti,

bahkan ketika tubuhnya ingin rebah,

ia tetap berdiri

seperti pintu yang menjaga rumah dari roboh.

Dan aku,

membawa semua yang pernah kehilangan ke dalam langkah,

seperti bara kecil yang tak boleh mati.

Jika kelak aku sampai pada tempat yang tinggi,

biarlah itu bukan sekadar kemenangan,

melainkan cara paling sunyi

untuk membalas yang tak pernah sempat meminta balas.

Penulis: Rifatul Atslah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *